Kamis, 30 Maret 2017

A. Pengertian Membina Tingkah laku yang Menyimpang

Membina merupakan suatu usaha untuk memperbaiki sesuatu yang sudah ada. Sehubungan dengan hal ini, W. J. S. Poerwadarminta (1976:141) menegaskan bahwa : “Membina berasal dari kata bina yang berarti membangun atau mengubah atau memperbaiki dari tiada menjadi ada atau dari ada ke tingkat yang lebih sempurna”.  Dengan demikian jelaslah bahwa membina tingkah laku yang menyimpang  siswa berarti mengubah atau memperbaiki tingkah laku siswa  ke tingkat yang lebih sempurna yang merupakan salah satu tugas guru di sekolah.

B. Faktor Penyebab Timbulnya Tingkah Laku Menyimpang

Setiap kegiatan atau tindakan yang dilakukan oleh manusia selalu dipengaruhi oleh dua faktor yang datangnya dari dalam dirinya dan faktor dari luar dirinya yang dikenal dengan istilah faktor intern dan faktor ekstern. Begitu pula halnya dengan sistem di sekolah dalam melakukan tingkah laku menyimpang atau pelanggaran.

Berdasarkan kenyataan tersebut untuk lebih membedakan tingkah laku faktor dari dalam (internal) dan faktor dari luar (eksternal) dapat dijelaskan sebagai berikut.

1. Faktor Internal

Adapun faktor ini dibagi atas dua yaitu faktor psikologis dan faktor fisiologis. Hal ini sesuai dengan pendapat Suryadi Suryabrata 91983:42) yang menerangkan bahwa “Faktor internal dibagi menjadi dua yaitu psikologis dan fisiologis”.

Faktor psikologis, dimaksud adalah segala bentuk kemampuan sebagai hasil yang berpusat pada otak atau akal, yang meliputi minat, kecerdasan, bakat, motivasi, kemampuan dan kognetif. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Suryadi Suryabrata (1983:42) bahwa “Faktor psikologis meliputi minat, kecerdasan, bakat, motivasi, kemampuan dan kognetif”.

Sedangkan faktor fisiologis meliputi kondisi umum dan panca indra. Dalam hal ini Suryadi Suryabrata (1983:42) menegaskan bahwa “Faktor fisiologis mencakup kondisi umum dan kondisi panca indra”.

Dengan demikian berarti bahwa apabila siswa melakukan penyimpangan di sekolah yang dipengaruhi oleh faktor internal berarti siswa tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor yang ada dalam dirinya. Karena setiap siswa mempunyai berbagai keinginan yang tidak terpenuhi didorong oleh berbagai faktor seperti untuk mensejajarkan diri dengan  siswa-siswa yang lain, tidak sesuainya bakat dan minat dengan apa yang ada di sekolah, atau dipengaruhi oleh rasa minder karena indranya tidak sempurna seperti yang dimiliki oleh  siswa-siswa yang lain. Atas dasar itulah dia melakukan tingkah laku yang menyimpang di sekolah seperti melanggar peraturan sekolah, melawan guru, berkelahi dengan sesama murid, membolos dan sebagainya.

2. Faktor Eksternal

Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri anak itu sendiri yang mempengaruhi siswa tersebut bertingkah laku menyimpang. Ada tiga lingkungan yang dapat mempengaruhi anak bertingkah laku menyimpang yaitu faktor lingkungan keluarga, faktor lingkungan sosial, dan faktor lingkungan sekolah.

a. Faktor Lingkungan Keluarga

Keluarga merupakan lembaga pertama dalam kehidupan anak, tempat ia belajar dan menyatakan diri sebagai makhluk sosial. Dalam keluarga, umumnya anak ada dalam interaksi yang intim. Segala sesuatu yang diperbuat anak mempengaruhi keluarganya dan sebaliknya. Keluarga memberikan dasar pembentukan tingkah laku, watak, moral dan pendidikan kepada anak. Pengalaman interaksi di dalam keluarga akan menentukan pula pola tingkah laku baik di rumah, dalam masyarakat maupun sekolah.

Disamping itu keluarga sebagai tempat awal bagi proses sosialisasi anak, keluarga juga merupakan tempat sang anak mengharapkan dan mendapatkan pemenuhan kebutuhan. Kebutuhan akan emosional telah dimiliki sejak ia lahir. Perkembangan jasmani anak tergantung pada pemeliharaan fisik yang layak yang di berikan keluarga. Sedangkan perkembangan sosial anak akan bergantung pada kesiapan keluarga sebagai tempat sosialisasi yang layak. Memang besar peranan dan tanggung jawab yang harus dimainkan orang tua dalam melakukan peranan tersebut, baik secara sadar maupun tidak, orang tua merupakan yang pertama dan utama dalam hal membina dan membentuk tingkah laku anak. Sehubungan dengan hal tersebut di atas, Romli Atmassasmita (1983:55) mengatakan sebagai berikut: “Keluarga sangat memegang peranan penting dalam pembentukan kepribadian si anak, maka tingkah laku dan pergaulan serta keharmonisan atau kerukunan orang tua selalu menjadi perhatian dan teladan bagi anak, dengan demikian kerukunan orang tua dapat membentuk tingkah laku anak”.

Dari kutipan di atas dapat di simpulkan bahwa tingkah laku anak dapat dipengaruhi  oleh faktor  dari luar dirinya yang pertama sekali adalah keluarga. Apabila keluarga itu utuh atau baik berarti orang tuanya selalu membimbing dan membina serta mengarahkan anaknya pada hal-hal yang baik dan benar, maka anak tersebut akan baik dan tidak akan melakukan tingkah laku yang menyimpang atau melanggar di mana saja ia berada baik dalam keluarga, masyarakat maupun di sekolah.

b. Faktor Lingkungan Sosial

Faktor lingkungan sosial adalah faktor hubungan manusia dengan manusia lain di mana ia berada. Faktor sosial berpengaruh terhadap proses pembentukan tingkah laku siswa di rumah, masyarakat maupun di sekolah. Dalam kehidupan sekolah ada mekanisme imitasi, sugesti, simpati identifikasi serta kebudayaan atau norma yang mengatur kepentingan masyarakat agar terpelihara dan tertib.  Sehubungan dengan pernyataan di atas, W. A. Gerungan (1977:35) mengatakan sebagai berikut:

Latar belakang sosial mempunyai pengaruh yang nyata terhadap tingkah laku   menyimpang pada siswa adalah:

  1. Anak yang bertingkah laku menyimpang lebih banyak berasal dari keluarga yang tidak utuh strukturnya.
  2. Anak yang bertingkah laku menyimpang berasal dari keluarga yang orang tuanya bercerai atau meninggal.
  3. Anak yang bertingkah laku menyimpang kurang mempunyai kesempatan hiburan-hiburan di rumah, sehingga anak akan mencarinya di luar rumah.
  4. Anak yang bertingkah laku menyimpang jauh lebih ketinggalan pendidikan di sekolah.

Selanjutnya Safiyuddin Sastrawijaya (1977:31) menegaskan bahwa “ ada beberapa faktor yang menyebabkan siswa melakukan tingkah laku menyimpang yang antara lain adalah sebagai akibat 1)  daripada frustasi yang bertumpuk-tumpuk, 2) untuk memenuhi kebutuhan atau dalam mengatasi masalah, dan 3)  akibat dari adanya tekanan batin” .

Berdasarkan kutipan di atas dapat di simpulkan bahwa tingkah laku menyimpang yang dilakukan siswa di sekolah diakibatkan oleh faktor lingkungan sosial antara lain kurangnya perhatian orang tuanya di rumah, tidak utuhnya keluarga, frustasi karena tidak terpenuhinya berbagai kebutuhan yang ia butuhkan dan tekanan batin. Dalam hal ini guru di sekolah dalam mengatasi kesulitan dan memecahkan masalah yang dihadapi murid, karena siswa sering menyimpang tingkah laku dipengaruhi oleh faktor sosial, karena ia ingin mensejajarkan diri dengan teman-temannya yang lain di sekolah dan dalam lingkungan masyarakat.

c. Faktor Lingkungan Sekolah

Keadaan sekolah yang tidak memenuhi persyaratan akan menimbulkan konflik bagi murid, misalnya guru-guru yang datangnya tidak teratur serta bersikap masa bodoh terhadap murid, sehingga siswa banyak mengalami kesulitan dan frustasi.  Dengan demikian hubungan yang baik antara guru dengan siswa dapat membekali dan membimbing siswa dengan norma-norma yang baik pula, sedangkan adanya salah didik dari pihak guru akan membawa siswa kepada penyimpangan tingkah laku yang mengakibatkan siswa mulai membenci kepada guru dan tidak menyukai sekolah serta tidak mengindahkan peraturan dan kedisiplinan  sekolah. Sehubungan dengan pernyataan di atas, B. Simanjuntak (1984:120) mengemukakan sebagai berikut :

Kondisi sekolah, sistem pengajaran di sekolah tidak menguntungkan akan menjurus siswa kepada tingkah laku yang tidak baik. siswa tidak mendapat kepuasan di sekolah, siswa merasa bosan akan pelajaran, sehingga tidak mencapai hasil yang baik. Pelajaran tidak sesuai dengan kesanggupan dan minat siswa dan tidak mendapat bimbingan tentang belajar yang efektif. Ketidakpuasan tersebut akan mengakibatkan siswa sering meninggalkan sekolah.

Dari kutipan di atas dapatlah diambil kesimpulan bahwa faktor yang dapat menyebabkan siswa melakukan penyimpangan atau pelanggaran seperti membolos, melawan guru, melanggar peraturan sekolah disebabkan oleh adanya rasa ketidakpuasan siswa baik  terhadap sikap guru dan keadaan sekolah serta peraturan yang berlaku di sekolah tersebut. Oleh sebab itu guru perlu memperhatikan sikap  dan ulah yang dilakukannya agar tidak menjengkelkan siswa dan membosankan murid. Dengan demikian tingkah laku menyimpang yang dilakukan tidak selamanya siswa yang salah, tetapi dipihak guru pun harus mengoreksi diri, sehingga dia mengetahui bahwa ia juga salah.

Usaha Guru dalam Mencegah dan Menanggulangi siswa yang Bertingkah laku Menyimpang

Di sekolah guru memegang peranan yang besar sebagai pendidik, disamping itu guru juga sebagai pembimbing dan pembina budi murid. Guru berusaha untuk membina dan berusaha untuk mengembalikan siswa kepada yang lebih baik, apabila ada siswa yang menyimpang dan mengalami masalah baik di sekolah, masyarakat dan keluarga, karena akan membawa pengaruh negatif baik terhadap dirinya, teman-temannya maupun sekolah.

Dari uraian di atas berarti ada empat usaha guru untuk memperbaiki tingkah laku muridnya di sekolah, baik terhadap tingkah laku menyimpang yang telah dilakukan maupun belum dilakukan demi kelancaran proses belajar mengajar di sekolah dan terhindar dari penyimpangan-penyimpangan di sekolah yang dilakukan muridnya. Sehubungan dengan hal ini, Koestoer Partowisastro (1985:82) mengemukakan sebagai berikut :

Adapun usaha guru di samping mendidik di sekolah dalam mencegah dan menanggulangi siswa yang melakukan tingkah laku menyimpang yaitu:

  1. Usaha preventif yaitu pencegahan sebelum terjadi atau timbulnya masalah-masalah dari anak didik.
  2. Usaha preventif yaitu memelihara situasi yang baik dan menjaga supaya situasi tersebut tetap baik.
  3. Usaha kuratif yaitu berusaha atau penyembuhan dan pembetulan dalam mengatasi masalah-masalah.
  4. Usaha rehabilitasi yaitu berusaha mengembalikan anak didik ke dalam situasi yang baik pula.

 

Untuk lebih jelas mari kita lihat satu per satu terhadap usaha–usaha guru dalam membina budi atau mengatasi tingkah laku menyimpang yang dilakukan siswa atau masalah yang di hadapi siswa di sekolah.

1. Pencegahan

Usaha pencegahan merupakan suatu usaha untuk mencegah pengaruh buruk yang dapat menimbulkan kesulitan bagi siswa di sekolah. Usaha guru yang bersifat preventif dapat di tempuh dengan usaha pembinaan yang terarah, mengembangkan diri anak dengan baik. Sehingga keseimbangan diri akan tercapai  dan terciptanya suatu hubungan yang serasi antara ratio dan aspek emosi.Murid dapat mengenal dirinya, dapat menyesuaikan diri dengan teman-temannya yang lain dan dapat membatasi dirinya dengan budi sosial dan nilai-nilai moral (etik). Pikiran yang sehat akan mengarahkan siswa kepada perbuatan yang wajar, sopan dan bertangung jawab.   Sehubungan dengan hal tersebut di atas, Kartini Kartono (1985:42) mengemukakan sebagai berikut:

Usaha preventif yang dilakukan guru yang berupa bimbingan terhadap siswa yang melakukan tingkah laku menyimpang dengan tujuan untuk menambah pengertian mengenai  1) pengenal diri sendiri yaitu menilai diri sendiri dalam hubungannya dengan orang lain, 2) penyesuaian diri yaitu mengenal dan menerima tuntutan serta menyesuaikan diri dengan tuntutan tersebut, 3)mengarahkan pribadi siswa ke arah pembatasan antara pribadi dan budi sosial dengan penekanan pada penyadaran nilai-nilai moral dan etik.

Berdasarkan uraian dan kutipan di atas, dapat di simpulkan bahwa guru sangat penting dalam membimbing muridnya di sekolah untuk membina dan menanam budi yang baik dan wajar. Sehingga mengenal dirinya, agar apapun yang dia kerjakan terhindar dari penyimpangan dan pelanggaran dengan norma-norma yang berlaku baik di sekolah, masyarakat maupun dalam keluarga. siswa lebih baik dicegah terlebih dahulu daripada diberantas apabila siswa tersebut telah terlanjur kedalam perbuatan yang dilakukannya.

2. Memelihara

Usaha guru untuk mencegah murid, agar terhindar dari masalah dan kesulitan merupakan kewajiban setiap guru di sekolah karena siswa di sekolah merupakan tanggung jawab guru, oleh sebab itu guru perlu memelihara dan mencegah muridnya dari berbagai masalah dan kesulitan demi kelancaran proses belajar mengajar di sekolah.

Untuk menjaga atau memelihara siswa terhindar dari tingkah laku yang menyimpang atau melanggar siswa harus dibantu, menempatkan dia tepat pada tempatnya atau keinginannya yaitu sesuai dengan keadaan dan mengadakan penilaian serta perbaikan terhadap perbuatannya yang dilakukan jika keliru. Bimbingan perlu secara terus menerus agar siswa mengenal mana yang baik dan mana yang buruk serta mana yang tidak bisa dikerjakannya. Guru berkewajiban menjelaskan akibat yang akan timbul  tentang perbuatan atau tingkah laku yang menyimpang  dan melanggar, supaya  siswa terpelihara dari masalah, kesulitan dan penyimpangan baik di sekolah maupun dalam masyarakat. Sesuai dengan pernyataan di atas, I Djumhur M. Surya (1975:39) mengatakan sebagai berikut:

Usaha guru untuk mencegah atau memelihara siswa dari kesulitan dan pelanggaran di sekolah, guru dalam melaksanakan program bimbingan di sekolah harus  1) mengenal setiap pribadi siswa dengan segala aspek dan latar belakangnya untuk lebih mudah memeliharanya, 2) membantu memberikan berbagai keterangan yang diperlukan oleh setiap siswa tentang pemecahan masalah, 3) menempatkan setiap siswa pada tempat/ posisi yang memadai sesuai dengan keadaan dirinya, 4) membantu memecahkan kesulitan-kesulitan atau masalah-masalah pribadi siswa secara individual, 5) mengadakan penilaian dan perbaikan-perbaikan bimbingan terhadap program bimbingan itu sendiri, agar tidak menyimpang antara bimbingan dengan penyimpangan yang hendak dilakukan murid.

Berdasarkan keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa guru di sekolah perlu mencegah dan memelihara siswa dari kesulitan dan masalah dengan berbagai cara atau usaha yang ditempuh. Menceggah lebih baik daripada memberantas, tetapi yang lebih baik lagi memelihara tingkah laku siswa yang memang sudah baik, berbudi sopan karena memang ia sudah terbiasa dalam keluarga dan masyarakat, oleh sebab itu guru perlu menampakkan tingkah laku yang baik pula karena guru sebagai contoh teladan bagi semua pihak terutama bagi muridnya.

3. Usaha Penyembuhan

Usaha penyembuhan merupakan usaha guru dalam penyembuhan dan pembentukan terhadap siswa yang melakukan tingkah laku menyimpang dan merupakan suatu proses perubahan pada diri murid, baik dalam bentuk pandangan maupun budi agar dapat menerima dirinya secara optimal.

Dalam usaha kuratif (penyembuhan) guru perlu ikut serta aktif dalam kegiatan bimbingan yang bertujuan untuk membantu siswa agar tecapai suatu kehidupan pribadi yang memuaskan dan secara sosial memuaskan. Adapun tujuan bimbingan  yang diinginkan guru di sekolah untuk memahami  siswa-siswa yang melakukan tingkah laku menyimpang, motif apa yang mendorongnya untuk membantu siswa dalam menyempurnakan cara-cara penyesuaiannya dan memberikan bimbingan agar siswa mengenal dirinya. Sehingga dia mengetahui mana yang tepat dilakukan dan mana yang harus ditinggalkan, disamping itu untuk menyadarkan siswa agar dia menyesal terhadap tingkah laku menyimpang yangbtelah ia kerjakan  dan jangan terulang lagi. Dalam hal ini Koestoer Partowisastro (1985:74 ) mengemukakan sebagai berikut:

Usaha-usaha guru dalam  membimbing murid-muridnya yang bersifat kuratif  dapat ditempuh dengan 1) pemahaman individual, yaitu guru harus dapat memahami siswa bermasalah serta motif apa yang membuat siswa tersebut bertingkah laku demikian, 2) pengembangan diri, yaitu mengembangkan serta menumbuhkan cara berfikir dan bertingkah laku secara sehat dengan kemungkinan yang ada pada diri siswa serta lingkungannya, 3) membantu siswa menyempurnakan cara-cara penyesuaiannya dan memberikan bimbingan serta bantuan kepada siswa untuk mengadakan pilihan penyesuaian yang bijaksana dan mampu memecahkan masalah.

Berdasarkan uraian diatas  dapat di simpulkan bahwa guru perlu mengenal latar belakang kehidupan  muridnya, tipe, minat, bakat dan tingkah lakunya sehingga dia  mudah dalam memberikan bimbingan serta mengatasi kesulitan yang dihadapinya. Oleh sebab itu guru bukan sekedar mengajar di sekolah tetapi juga sebagai orang yang dapat merubah pola dan tingkah laku anak yang menyimpang dan melanggar secara keseluruhan demi ketenangan, ketentraman dan kelancaran proses belajar mengajar di sekolah. Dengan demikian tanggung jawab guru di sekolah sangat besar dalam hal membina dan  mendewasakan objek didik seoptimal mungkin.

4. Usaha Rehabilitasi (Mengembalikan)

Setiap siswa yang pernah melakukan tingkah laku menyimpang merasa rendah diri, minder, malu dan merasa takut baik terhadap guru maupun teman-temannya di sekolah. Untuk menghindarkan masalah tersebut, guru perlu merehabilitasi atau mengembalikan siswa tersebut pada keadaan biasa. Sehubungan dengan hal ini, Zakiah Darajat (1978:28) menegaskan bahwa “Setiap anak yang telah melakukan kesalahan, dia merasa malu dan takut, sehingga ia sering menyendiri karena merasa dirinya bersalah. Untuk itu orang tua di rumah dan guru di sekolah harus memperhatikan secara serius terhadap anak ini untuk mengembalikan kepercayaan diri”.

Dengan demikian, rehabilitasi pada hakekatnya sangat perlu dilakukan oleh guru untuk memulih kembali nama baik siswa yang telah cemar namanya agar siswa tersebut tidak menjadi beban mentalnya dalam kehidupan di sekolah. Disamping itu rehabilitasi dapat mencegah siswa untuk melakukan tingkah laku yang lebih menyimpang lagi di sekolah atau di luar sekolah, karena  dia sudah merasa dibenci atau disingkirkan oleh teman-temannya.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa rehabilitasi di sekolah karena mengembalikan atau menghapuskan suatu hal yang dianggap telah tercemar nama baik siswa yang telah melakukan tingkah laku menyimpang baik di sekolah maupun diluar sekolah. Untuk itu guru dalam membina budi siswa tersebut di sekolah perlu kemampuanitas yang tinggi.

5. Peningkatan Kemampuan Guru BK

Dewasa ini pemerintah telah berupaya untuk meningkatkan mutu pendidikan dalam rangka menyukseskan pembangunan jangka panjang kedua yang salah satu sasarannya adalah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Untuk itu pemerintah telah menetapkan berbagai kebijaksanaan dan menjalankan berbagai program  untuk meningkatkan kemampuan guru, karena guru BK memegang peranan penting dalam  membimbing dan membina minat, bakat serta sikap mental siswa di sekolah.

Tugas dan tanggung jawab guru memang sangat besar, karena untuk mencapai cita-cita nasional sebagaimana yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 alinea keempat yaitu “mencerdaskan kehidupan bangsa”, yang kemudian dituangkan pasal 31 UUD 1945 yang berbunyi “Tiap warga negara berhak mendapat pendidikan dan pengajaran”.

Kesemuanya ini merupakan langkah atau usaha untuk meningkatkan kemampuan guru dalam menghadapi kemajuan teknologi yang semakin maju, agar guru lebih mampu membina budi muridnya yang menyimpang akibat dari pengaruh teknologi dan informasi yang disalahgunakan oleh murid.

Semoga Bermanfaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Name *
Email *
Website